This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2011

Yang Tertinggal


Yang Tertinggal 

“Pulanglah anakku....kami menunggumu disini”
            Aku terbangun karena mimpi itu lagi. Setiap malam aku selalu dihantui mimpi itu sejak kedua orangtuaku meninggal karena kecelakaan. Dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh aku berusaha mengingat kata-kata itu yang terus terngiang. Apa maksud ini semua?
“Kamu mimpi lagi,Luna?” Kata Tante Ima. Adik Bunda.
“Iya Tante...” Sahutku.
“Mungkin itu hanya bunga tidur saja. Ya udah tidur aja lagi dan jangan lupa berdoa dulu”
            Sejak Ayah dan Bunda tiada aku tinggal bersama Tante Ima dan Tante Ina. Mereka adalah adik Bunda dan tidak menikah. Aku berusaha untuk tidur lagi tapi aku tidak mampu memejamkan mataku lagi sampai subuh.
“Lun,nanti kami tidak bisa menjemputmu dan kami ada urusan bisnis dikota sampai besok. Kamu ngga apa-apa kami tinggal sendiri sama Bi Ijah”
“Iya Tante. Ohya Tante,pulang sekolah Luna mau kerumah Luna yang dulu”
“Ngapain kesana,Lun?” Tanya Tante Ima.
“Luna kangen rumah,Tante”
“Biarin aja Mbakyu. Mungkin Luna ingin lihat rumahnya” Sahut Tante Ina.
“Ya udah tapi jangan sampai kamu nginap disana. Kan ngga ada orang disana”
“Iya Tante. Terima kasih Tante”
“Iya sayang...ayo kita berangkat sekarang. Ntar kamu telat masuk sekolahnya”
            Disekolah aku tidak berkonsentrasi dengan perkataan Bu Aidah. Guru Kimiaku yang sedang ceramah didepan kelas. Aku masih teringat mimpi yang selama ini menghantui mimpiku.
“Lun,kamu kenapa sih akhir-akhir ini kelihatan ngga bersemangat” Tanya Sarah teman sekelasku.
“Entahlah Sar. Aku bingung..”
“Bingung kenapa..coba kamu cerita mungkin aku bisa bantu kamu?”
“Ini aneh,Sar. Aku ngga yakin kamu bisa paham”
“Ya udah cerita aja..”
“Sejak kematian orangtuaku. Aku tinggal bersama adiknya Bunda...”
“Apa mereka menyiksamu....?”
“Tidak. Mereka tidak pernah menyiksaku malahan mereka sangat sayang denganku..”
“Terus masalahmu apa?”
“Aku selalu bermimpi sejak aku tinggal bersama meraka”
“Mimpi? Kamu mimpi apa,Lun?”
“Didalam mimpiku itu ada dua orang yang menyuruhku pulang tapi aku ngga lihat siapa mereka. Mereka terlihat samar-samar. Setiap malam aku selalu mimpi itu yang menyuruhku pulang”
“Mungkin kamu disuruh pulang kerumahmu yang dulu,Lun. Siapa tahu saat kamu sudah datang kesana. Kamu tidak dihantui mimpi itu lagi”
“Aku mau kesana sepulang sekolah ini”
“Mau aku temani...”
“Biar aku sendiri yang kesana...”
            Rumah ini tidak berubah sejak aku tinggalkan tiga bulan lalu. Aku merasa rindu dengan ayah bundaku. Selama tujuhbelas tahun aku tinggal disini bersama orangtuaku tapi kini terenggut oleh kematian. Aku berjalan diseluruh ruangan yang semakin mengingatku pada ayah dan bunda yang selalu menemani belajar dimeja makan ini. Aku memasuki kamar tidurku. Sudah lama aku tidak kesini. Akupun juga masuk kekamar ayah dan bunda dimana waktu aku kecil aku sering menyelinap masuk kekamar mereka dan tidur bersama mereka. Tanpa terasa aku menangis menahan kerinduanku pada mereka. Aku pun tertidur..
“Kembalilah sayang..Pulanglah bersama kami. Kami sangat merindukanmu”
Aku terbangun karena terkejut..
“Ayah...Bunda...Luna sudah pulang. Apakah itu kalian yang memintaku pulang?” Sahutku...
Rumah Tante Ina
“Tante,Luna ingin bicara sama kalian berdua”
“Iya sayang. Ada apa?”
“Tante,Luna ingin pulang kerumah Luna yang dulu”
“Kamu tidak senang tinggal bersama kami,sayang?”
“Itu Tante....Luna ingin tetap tinggal disana...”
“Maaf Luna. Kami tidak bisa mengabulkan permintaanmu”
“Tapi kenapa Tante....”
“Luna,rumahmu itu sudah disita oleh bank”
“Disita......?
“Iya sayang. Ayahmu mempunyai banyak utang dibank sejak usahanya bangkrut sehingga bank menyita rumah itu. Maafkan kami sayang. Kami tidak bisa mengembalikan rumah itu?”
            Ayah mempunyai hutang dibank? Mengapa mereka tidak pernah cerita ini padaku bahkan setelah mereka tiada. Apakah itu aku tidak bisa pulang lagi kerumah itu? Semalaman aku menangis tanpa sadar aku tertidur ..
“Maafkan kami sayang. Kami harus melakukannya demi kebaikanmu. Ayah dan Bunda ingin membuatmu bahagia...Pulanglah sayang...”
            Lagi-lagi aku terbangun karena mimpi yang sama tapi hari ini aku dapat melihat dengan jelas mimpiku itu. Didalam mimpi itu aku bersama dua orang yang tidak aku kenal. Kami menanam sesuatu disana. Sebuah kotak peti kecil. Kami menguburnya didalam tanah dan sesudah itu kami masuk kesebuah rumah yang sangat rindang dan teduh yang berwana hijau lumut tapi aku tidak tahu rumah siapa itu dan siapa mereka.
“Kamu bermimpi itu lagi,Lun?” Tanya Sarah waktu istirahat sekolah.
Aku hanya mengangguk.
“Begiini aja Lun. Bagaimana kalau kita tanya sama orang pintar saja?”
“Tapi kita kan boleh datang ketempat itu,Sar”
“Tapi kita kan ngga nyantet orang. Kita kan cuma tanya arti mimpimu itu?
“Janji loh ya. Hanya bertanya aja...”
“Iya nona manis. Ntar aku hubungi kamu lagi,oke”
“Ayah....kenapa kita mengubur kotak itu?”
“Dikotak itu ada sesuatu yang sangat berharga,sayang”
“Terus kapan kita boleh membukanya?”
“Kalau kita membutuhkannya. Jadi pulanglah kerumah ini ketika kau sudah dewasa nanti”
“Luna....Luna....bangun sayang..” Kata Tante Ina dan Tante Ima.
“Kamu bermimpi buruk lagi..” Sahut Tante Ina.
“Iya Tante...”
“Apa kamu masih teringat orangtuamu? Tanya Tante Ima.
Aku hanya tersenyum.
“Maafkan Luna,Tante...”
“Kami maklum sayang....”
            Sebenarnya mimpi apa aku ini? Aku melihat didalam mimpi itu ada seorang anak kecil yang wajahnya tidak asing bagiku. Gadis kecil itu sedang menguburkan sebuah kotak kecil berwarna hitam bersama ayahnya tapi aku tidak bisa melihat apa isi kotak itu?
            Hari ini aku bersama Sarah ketempat orang pintar untuk menanyakan arti mimpiku ini.
“Ada apa nona-nona datang kesini...” Tanya seorang pria tua dibelakang kami yang menbuat kami terkejut.
“Ka...mi....ma..u tanya ses...suatu,pak” Jawab kami gugup
“Maryam.......” Sahut pria tua itu dihadapan kami
“Maaf kakek. Kami bukan Maryam....”
“Ehm....maafkan saya karena wajahmu sama seperti seseorang yang saya kenal” Jawabnya sambil menunjuk kepadaku.
“Saya tahu maksud kedatangan kalian kesini. Anak ini mengalami mimpi yang menganggunya selama ini kan..”
“Loh kakek ini hebat....” Celetuk Sarah
“Namanya juga orang pintar....” Sahutku berbisik..
“Saya bukanlah orang pintar atau semacamnya tapi saya bisa melihat dan membaca pikiran manusia...”
“Terus apakah kakek bisa membantu saya....” Sahutku..
“Tentang arti mimpi itu ada hubungannya dengan masa lalumu...carilah dulu masa lalumu itu maka kau akan bisa mengetahuinya...”
Kami hanya terdiam karna bingung.
“Saya ngga ngerti maksud kakek....?” Tanyaku bingung.
“Maaf saya tidak bisa membantumu,nak. Bukannya saya sudah mengatakannya bahwa saya bukan orang pintar....”
Kami berlalu pergi dari hadapan kakek itu dengan pikiran yang masih bingung..
”Akhirnya kau datang....” Kata kakek itu sambil masuk kerumahnya.
“Emang kau punya masalalu yang buruk,Lun...” Tanya Sarah didalam mobil.
“Aku ngga punya masalalu seperti itu,Sar...”
“Maksud kakek itu apa sih...” Gerutu Sarah
“Sudah biarin aja Sar. Ntar ya hilang sendiri...”
“Apa kita mau ke orang pintar lagi...’Tanya Sarah.
Aku menggeleng..
“Loh...Lun itu kan rumahmu kok sekarang malah jadi milik pihak bank..” Kata Sarah sambil menunjuk rumahku yang dulu.
“Iya...sekarang rumah itu sudah jadi milik bank...” Sahutku sedih.
Sarah menepuk bahuku pelan.
Rumah ini milik Bank...
Aku melihat rumah itu dengan perasaan sedih karena selamanya aku tidak akan memiliki rumah itu lagi.
“Kemarilah sayang..datang kesini. Kami menunggumu disini...”
            Lagi...aku terjaga dari tidurku. Entah kenapa semakin lama mimpi itu terus datang dalam tidurku. Semakin lama mimpi itu semakin jelas. Didalam mimpi itu aku melihat gadis kecil itu lagi bersama orangtuanya. Mereka terlihat sangat bahagia dan bermain dibawah pohon yang rindang. Kemudian mereka masuk kerumah itu dan menoleh kebelakang sambil tersenyum. Senyuman yang sangat bersahaja dan lembut. Melihat senyuman mereka aku merasakan sebuah keluarga yang hangat.
            Hari ini Sarah mengajakku jalan-jalan dengan mobilnya. Untuk menghilangkan stres sehabis ujian. Kami sedang menuju desa tempat tinggak kakek nenek Sarah. Aku pernah kerumah mereka tapi itu dua tahun yang lalu waktu kita liburan.
“Stop....Sarah...” Kataku tiba-tiba.
“Ada apa Lun....?” Tanya  Sarah kaget.
“Itu rumah siapa,Sar?” Tanyaku karena rumah itu mirip didalam mimpiku.
“Kamu ini...kagetin aku aja...kukira ada apa?” Jawab Sarah sambil melajukan mobilnya.
“Menurut Kakekku..rumah itu milik sebuah keluarga kaya tapi mereka sudah meninggal puluhan tahun lalu. Kabarnya mereka meninggal karena kepikiran anaknya yang dibawa lari...” Lanjut Sarah.
“Diculik maksudmu...”
“Entahlah..Lun. Sampai sekarang anak itu ngga pernah ditemukan. Kamu tahu rumah itu sudah berusia berapa?”
Aku menggeleng..
“Menurut kabar yang aku dengar. Rumah itu sudah berusia lebih dari lima puluh tahun. Ngga ada satupun orang sini yang mau membongkarnya karena kata orang sekitar desa ini rumah itu ngga bisa dirobohkan oleh apapun juga. Siapapun yang yang berani pasti akan celaka. Mistik ya...”
Aku mendengar penjelasan Sarah sambil bengong.
“Nah kita sudah sampai....”
            Malam ini kami bercerita sambil makan singkong rebus buatan nenek Sarah. Kakek bercerita bahwa rumah yang aku lihat adalah sebuah rumah yang dimiliki orang ningrat yang sangat baik tetapi suatu hari anak satu-satunya yang berumur sepuluh tahun diambil oleh orangtua kandungnya.
“Jadi mereka bukan orangtua kandungnya..?” Tanyaku antusias..
“Iya. Mereka menemukan bayi itu didepan rumah mereka pada malam hari. Mereka sangat bahagia karena selama ini mereka tidak bisa mempunyai keturunan karena ada penyakit yang diderita oleh istrinya. Mereka sangat menyayangi anak itu tapi kebahagian mereka tidak bertahan lama karena anak itu diambil paksa oleh orangtuanya yang selama ini ternyata anak itu diculik”
“Darimana mereka tahu itu anak mereka,Kek?” Sahut Sarah penasaran..
“Karena anak itu punya ciri-ciri yang sangat dikenali orangtuanya. Anak itu punya tanda dipangkal lulutnya”
“Terus Kek apa yang terjadi selanjutnya...” Tanyaku..
“Setelah anak itu dibawa orangtua kandungnya. Mereka sangat kesepian dan mengurung diri dirumahnya tapi suatu hari saat mereka ingin menjenguk anaknya dikota. Mereka kecelakaan dan menewaskan mereka sebelum mereka bertemu anaknya..”
“Kasihan ya Kek...” Jawab Sarah....
“Kata Sarah rumah itu tidak bisa dirobohkan...” Kataku sambil melirik Sarah yang makan singkong.
“Iya yang dikatakan Sarah memang benar. Sampai sekarang rumah itu ngga bisa dirobohkan oleh apapun. Mungkin mereka ingin rumah itu jadi milik anaknya tapi sayang anaknya meninggal karena sakit saat berusia duabelas tahun”
“Kok kakek tahu semua sih...” Kata Sarah..
“Karena ayah kakek adalah teman anak itu...” Jawab nenek dari belakang.
“Benar itu Kek...” Tanyaku...
“Iya Nak Luna. Anak itu teman ayah kakek. Pertama kali kakek melihatmu kakek kira kau adalah dia karena wajahmu sangat mirip dengannya...”
“Ah..kakek ini. Aneh deh ya ngga mungkin Luna teman ayah kakek itu. Emang itu sudah berapa tahun kejadiannya,Kek?” Celetuk Sarah..
“Kejadian sudah tujuhpuluh lima tahun yang lalu. Tumben kamu tanya,Sarah. Wah cucu kakek ini sudah pintar ya tanya-tanya”
“Kan sayang Kek rumah itu dibiarkan seperti itu. Surat rumahnya apa hilang sehingga tidak ada yang mau ambil alih?” Tanyaku..
“Itulah yang sampai sekarang kami warga sini tidak menemukan surat itu. Ayo sudah malam waktunya kita tidur....”
“Datanglah kesini sayang. Kami sudah menunggu kedatanganmu”
            Mimpi itu selalu datang dimanapun aku berada. Akhirnya aku tidak bisa memejamkan mataku lagi. Aku berjalan-jalan mengelilingi rumah kakek Sarah tanpa sadar aku melihat sebuah foto masa kecil Sarah bersama gadis kecil yang membuatku terkejut gadis kecil itu sama didalam mimpiku.
“Loh kamu kok udah bangun,Luna...” Tanya Sarah...
“Kamu sama siapa didalam foto ini...” Kataku sambil memperlihatkan foto itu kepada Sarah.
“Itukan kamu,Luna...”
“Aku? Ngga mungkin Sar. Kita berteman kan waktu SMA?”
Saat itu juga Sarah menyadari bahwa sebenarnya mereka berteman sejak kecil karena kecelakaan lima tahun silam yang membuat Luna hilang ingatan masa kecilnya.
“Kamu bohong kan,Sar?”
“Luna,maafkan aku. Selama ini aku menyembunyikan rahasia ini”
“Rahasia apa? Aku ngga mengerti maksudmu”
“Sebenarnya kita sudah saling kenal sejak kita kecil tapi kamu mengalami kecelakaan lima tahun silam yang merenggut semua ingatan masa kecilmu. Menurut dokter kamu hanya mengingat masa dimana kamu masih SMP dan waktu itu kita tidak bersekolah ditempat yang sama sehingga kau tidak mengenalku”
            Seketika itu kepalaku berputar dan ingatan itu kembali lagi. Mobil merah yang menabrakku sehingga aku terpelanting jauh. Ya aku ingat sekarang..mengapa semua orang seakan mengenalku tapi sebelum aku bisa mengingatnya jauh aku terjatuh pingsan.
“Ayah...bolehkah Arimbi membuka kotak itu sekarang”
“Belum waktunya sayang.....”
“Kapan aku bisa membukanya...”
“Ketika kau sudah dewasa...”
“Arimbi Putri,berjanjilah pada Ayah. Arimbi akan kembali lagi kesini untuk membuka kotak ini walau Ayah atau Bunda sudah tiada”
“Iya Ayah. Arimbi janji.......” 
“Akhirnya kau sadar,Nak” Kata Nenek sambil mengelap keringatku.
“Kek,siapa nama teman Ayahnya Kakek itu....?” Kataku tiba-tiba sambil melihat kakek.
“Namanya....Arimbi Putri Prabuwijaya”
“Kenapa kamu ingin mengetahuinya?”
“Kek,bisa anterkan Luna kerumah itu?”
Kakek mengangguk....
            Setibanya aku dirumah itu. Aku melihat rumah itu sama persis seperti didalam mimpiku. Rumah yang bercat hijau lumut dan disamping gasebo ada pohon beringin yang juga ada dalam mimpiku.
“Akhirnya kau datang.....anakku? Datnaglah kemari.....”
            Aku mendengar suara yang tak asing bagiku persis didalam mimpi. Tanpa sadar aku melangkah kearah pohon itu dan segera mengambil cangkul yang dibawa kakek.
“Kamu ngapain Luna...” Kata Sarah mencegahku...
“Biarkan saja,Sarah....” Sahut Kakek
            Akupun segera mencangkul tanah itu sampai kedalam dan aku terkejut karena didalam tanah itu ada sebuah kotak peti kecil berwarna hitam. Aku segera membuka kotak itu dan menemukan sepucuk surat yang sudah lusuh dan terlebih lagi yang membuatku terperanjak adalah aku menemukan surat rumah ini beserta tanahnya.
“Ternyata selama ini Tuan Prabu menyimpan surat-suratnya didalam tanah” Kata Kakek
Aku segera membaca surat itu...
Arimbi sayang,Ayah tahu kau akan datang walau itu membutuhkan waktu yang lama. Rumah ini dan isinya adalah milikmu sekarang....
“Tapi aku bukan Arimbi?”
“Iya kau memang bukan Arimbi tapi kau adalah keturunannya,Nak?” Sahut seseorang dari arah belakang.
“Kakek......”Kami terkejut karena kakek itu adalah orang pernah kami temui.
“Darimana kakek tahu...” Kataku..
“Ketika kau datang kerumah saya waktu itu. Arimbi adalah nenek buyutmu,nak”
“Bukannya Arimbi meninggal waktu dia berusia dua belas tahun?” Tanya Kakek Sarah
“Itu salah. Arimbi meninggal diusianya yang kedua puluh saat dia melahirkan nenekmu. Keluarga Arimbi merahasiakan kematian tuan Prabu kepadanya dan memberitahukan kepada semua orang bahwa Arimbi meninggal agar Arimbi tidak dicari oleh orang-orang yang berusaha mencari surat wasiat Tuan Prabu berupa rumah ini dan tanah yang ada dibelakang rumah ini” Lanjut Kakek itu.
“Jadi arti mimpiku itu...”
“Iya Nak,orang yang kau temui dalam mimpimu itu adalah orangtua angkat Arimbi yang selama ini menunggu kedatangan keturunan Arimbi dan hanya kau yang mempunyai tanggal lahir yang sama dengan Arimbi. 20 April kan....”
“Iya...tapi kenapa kakek mengetahuinya? ’
“Karena kakek adalah teman nenekmu. Maryam...dan nenekmu juga mengalami mimpi yang sama tapi nenekmu tidak bisa mewujudkannya karena dia meninggal sepuluh tahun yang lalu sehingga mereka datang kembali untuk mencari yang tertinggal yaitu keturunan Arimbi....dan keturunan terakhir adalah kamu...”
            Akhirnnya aku mengerti arti mimpiku ini. Mereka datang dalam mimpiku agar aku bisa datang ketempat ini dan mengetahuinya rahasia ini. Aku membuka pintu rumah ini. Akupun masuk kedalamnya dan melihat bahwa rumah ini tak berubah sedikipun walau sudah enampuluh tahun lamanya dan ketika aku membuka pintu belakang. Ada sebuah pemandangan yang sangat indah.
“Terima kasih...untuk kalian yang sudah datang dalam mimpiku. Aku akan menjaga rumah ini...” Kataku sambil menutup pintu dan aku kembali mendengar sayup-sayup seseorang berkata.
“Terima kasih juga sayang....akhirnya kau datang”
Dan akupun tersenyum.....


Minggu, 04 Desember 2011

Tangisan Rasulullah Menggoncangkan Arasy



Dikisahkan, bahwasanya di waktu Rasulullah s.a.w. sedang asyik bertawaf di Ka’bah,
beliau mendengar seseorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: “Ya Karim! Ya
Karim!”
Rasulullah s.a.w. menirunya membaca “Ya Karim! Ya Karim!” Orang itu Ialu
berhenti di salah satu sudut Ka’bah, dan berzikir lagi: “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah
s.a.w. yang berada di belakangnya mengikut zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!” Merasa seperti
diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang
gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. Orang itu Ialu berkata:
“Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku,
karena aku ini adalah orang Arab badwi? Kalaulah bukan kerana ketampananmu dan
kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”
Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah s.a.w. tersenyum, lalu bertanya:
“Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?” “Belum,” jawab orang itu. “Jadi
bagaimana kau beriman kepadanya?”
“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah
melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu
dengannya,” kata orang Arab badwi itu pula.
Rasulullah s.a.w. pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah
Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!” Melihat Nabi di hadapannya, dia
tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.
“Tuan ini Nabi Muhammad?!” “Ya” jawab Nabi s.a.w. Dia segera tunduk untuk
mencium kedua kaki Rasulullah s.a.w. Melihat hal itu, Rasulullah s.a.w. menarik tubuh orang
Arab itu, seraya berkata kepadanya:
“Wahal orang Arab! janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan seperti itu biasanya
dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya, Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk
menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi
membawa berita.
Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: “Ya
Muhammad! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan bersabda: “Katakanlah
kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahawa
Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik
yang kecil maupun yang besar!” Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi.
Maka orang Arab itu pula berkata:
“Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas
amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!” kata orang
Arab badwi itu. “Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan?” Rasulullah
bertanya kepadanya. ‘Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, makahamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya,’ jawab orang itu.
‘Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan
memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan
kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa
kedermawanannya!’
Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah s.a.w. pun menangis
mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata beliau meleleh
membasahi Janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata:
“Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda:
Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari
bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahwa
Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya.
Allah sudah rnengampuni semua kesalahannya dan la akan menjadi temanmu di syurga
nanti!” Betapa sukanya orang Arab badwi itu, mendengar berita tersebut. la Ialu menangis
karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya.
Dikutip dari
Himpunan kisah-kisah teladan
Berbagi cerita islami
Alasan saya menshare cerita ini tak lain karena sudah banyak di lingkungan sekitar yg beragama muslim namun tak tahu sejarah cerita” nya,,, saya pun sama...
Oleh karena itu silahkan copas dan ajak teman teman kawan ikut membaca juga ya...!!! J salam admin

Kisah Pohon Apel



Sebagian dari kita mungkin sudah pernah membaca cerita ini tapi apa salahnya saya
muat kembali di pages ini buat saudara-saudara kita yang belum pernah membaca cerita ini
dan sebagai bahan review buat yang sudah pernah membaca. Semoga bermanfaat………
Suatu masa dahulu, terdapat sebatang pohon apel yang amat besar.Seorang kanakkanak
lelaki begitu gemar bermain-main di sekitar pohon apel ini setiap hari. Dia memanjat
pohon tersebut, memetik serta memakan apel sepuas-puas hatinya, dan adakalanya dia
beristirahat lalu terlelap di perdu pohon apel tersebut. Anak lelaki tersebut begitu menyayangi
tempat permainannya.
Pohon apel itu juga menyukai anak tersebut. Masa berlalu… anak lelaki itu sudah
besar dan menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan masanya setiap hari bermain
di sekitar pohon apel tersebut. Namun begitu, suatu hari dia datang kepada pohon apel
tersebut dengan wajah yang sedih.
“Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu.
“Aku bukan lagi kanak-kanak, aku tidak lagi gemar bermain dengan engkau,” jawab remaja
itu.
“Aku mau permainan. Aku perlu uang untuk membelinya,” tambah remaja itu dengan nada
yang sedih.
Lalu pohon apel itu berkata, “Kalau begitu, petiklah apel-apel yang ada padaku.
Juallah untuk mendapatkan uang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang
kauinginkan.”
Remaja itu dengan gembiranya memetik semua apel di pohon itu dan pergi dari situ.
Dia tidak kembali lagi selepas itu. Pohon apel itu merasa sedih.
Masa berlalu…
Suatu hari, remaja itu kembali. Dia semakin dewasa. Pohon apel itu merasa gembira.
“Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu.
“Aku tiada waktu untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin
membina rumah sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Bisakah kau menolongku?”
Tanya anak itu.
“Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi kau boleh memotong dahan-dahanku
yang besar ini dan kau buatlah rumah daripadanya.” Pohon apel itu memberikan cadangan.
Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong ke semua dahan pohon apel itu dan pergi
dengan gembiranya. Pohon apel itu pun turut gembira tetapi kemudiannya merasa sedih
karena remaja itu tidak kembali lagi selepas itu.
33
Suatu hari yang panas, seorang lelaki datang menemui pohon apel itu. Dia sebenarnya
adalah anak lelaki yang pernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah matang dan
dewasa.
“Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu.
“Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yang suka bermain-main di sekitarmu. Aku
sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk belayar. Malangnya, aku tidak mempunyai
perahu. Bolehkah kau menolongku?” Tanya lelaki itu.
“Aku tidak mempunyai perahu untuk diberikan kepada kau. Tetapi kau boleh memotong
batang pohon ini untuk dijadikan perahu. Kau akan dapat belayar dengan gembira,” kata
pohon apel itu.
Lelaki itu merasa amat gembira dan menebang batang pohon apel itu. Dia kemudian
pergi dari situ dengan gembiranya dan tidak kembali lagi selepas itu.
Namun begitu, pada suatu hari, seorang lelaki yang semakin di mamah usia, datang
menuju pohon apel itu. Dia adalah anak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon apel itu.
“Maafkan aku. Aku tidak ada apa-apa lagi untuk diberikan kepada kau. Aku sudah
memberikan buahku untuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, batangku untuk kau buat
perahu. Aku hanya ada tunggul dengan akar yang hampir mati…” kata pohon apel itu dengan
nada pilu.
“Aku tidak mahu apelmu karena aku sudah tiada bergigi untuk memakannya, aku tidak mahu
dahanmu kerana aku sudah tua untuk memotongnya, aku tidak mahu batang pohonmu kerana
aku tidak berupaya untuk belayar lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat,” jawab lelaki tua
itu.
“Jika begitu, istirahatlah di perduku,” kata pohon apel itu. Lalu lelaki tua itu duduk
beristirahat di perdu pohon apel itu dan beristirahat. Mereka berdua menangis kegembiraan.
Tahukah kamu. Sebenarnya, pohon apel yang dimaksudkan di dalam cerita itu adalah
kedua-dua ibu bapak kita. Saat kita masih muda, kita suka bermain dengan mereka. Ketika
kita meningkat remaja, kita perlukan bantuan mereka untuk meneruskan hidup. Kita
tinggalkan mereka, dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita di dalam kesusahan.
Namun begitu, mereka tetap menolong kita dan melakukan apa saja asalkan kita bahagia dan
gembira dalam hidup. Anda mungkin terfikir bahwa anak lelaki itu bersikap kejam terhadap
pohon apel itu, tetapi fikirkanlah, itu hakikatnya bagaimana kebanyakan anak-anak masa kini
melayani ibu bapak mereka.
Hargailah jasa ibu bapak kepada kita. Jangan hanya kita menghargai mereka semasa
menyambut hari ibu dan hari bapak setiap tahun.
***
34
Allah SWT berfirman :
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu
bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan
susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,
sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a:
“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau
berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang
saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan)
kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya
aku termasuk orang-orang yang berserah diri” [Q.S 46:15]
Belum ada kata terlambat untuk kembali berbakti kepada kedua orang tua kita biarpun
mereka sudah tidak ada di dunia fana ini….
Thanks for reading J
Semoga bermanfaat J
By : admin

yg mau cerita tersebut silahkan download disini